KARYA TULIS ILMIAH
PERAN PONDOK PESANTREN DALAM
PENDIDIKAN KARAKTER DI ERA GLOBALISASI

DOSEN PENGAMPU :
HENDRI
FIRMANSYAH. M,Pd
DI SUSUN OLEH :
SAFRIZAL
FADLAN 1911330024
PROGRAM STUDI MANAJEMEN DAKWAH
FAKULTAS USHULUDDIN ADAB DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI BENGKULU
2019/2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat
Allah SWT. Karena atas berkat rahmat dan karunianyalah, karya tulis ilmiah yang
berjudul “Peran Pondok Pesantren Dalam Pendidikan Karakter Di Era Globalisasi”
dapat terselesaikan dengan baik serta tepat pada waktunya, adapun tujuan
penulisan karya tulis ilmiah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah bahasa
Indonesia.
Dalam penyelesaian karya tulis ilmiah ini, kami banyak
terutama disebabkan karena kurangnya ilmu pengetahuan yang menunjang, namun,
berkat bimbingan dari berbagai pihak, akhirnya karya tulis ilmiah ini datat
terselesaikan dengan cukup baik.
Saya sadar, sebagai seorang mahasiswa yang masih dalam
tahap pembelajaran, penulisan karya tulis ilmiah ini masih banyak kekurangan.
Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat
positif, guna penulisan karya tulis ilmiah yang lebih baik dimasa yang akan
dating.
Bengkulu,
14 Desember 2019
PENULIS
DAFTAR
ISI
HALAMAN
JUDUL
KATA
PENGANTAR
DAFTAR
ISI
BAB
1 PENDAHULUAN
- A. Latar Belakang
- B. Rumusan Masalah
- C. Tujuan Penulisan
- D. Manfaat Penulisan
BAB
2 PEMBAHASAN
- A. Pendidikan Karakter di Era Globalisasi
- B.
Metode Pendidikan Pondok Pesantren
- C.
Peran Pondok Pesantren Dalam Pendidikan
Karakter
BAB
3 PENUTUP
A.
Kesimpulan
B.
Saran
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di era globalisasi adalah era
yang penuh dengan persaingan teknologi yang menuntut manusia untuk lebih
berkembang dalam ilmu pengetahuan. Tidak dapat dipungkiri, Indonesia pun
merasakan dampak dari adanya proses globalisasi. Sehingga, penguasaan ilmu
pengetahuan umum sangat ditekankan dalam setiap kurikulum pendidikan di
Indonesia.
Dari salah satu dampak
globalisasi budaya, menyebabkan kebudayaan dan karakter asli bangsa Indonesia
yang memiliki nilai moral yang tinggi mulai pudar oleh globalisasi. Oleh karena
itu, perlulah sebuah pendidikan yang dapat mengembalikan karakter bangsa
Indonesia, sehingga tidak hanya ilmu pengetahuan yang dikuasai, namun
pengendalian karakter yang baik demi pemanfaatan ilmu pengetahuannya secara
bijak.
Dari berbagai macam konsep
pendidikan di Indonesia, pendidikan pondok pesantren merupakan konsep
pendidikan yang dinilai mampu untuk mengembalikan karakter budaya bangsa
Indonesia. Dimana dalam konsep pendidikannya lebih menekankan pada pendidikan
moral dan ilmu agama sebagai proses pembentukan karater.
Oleh karena itu, penulis tetarik
untuk lebih mengetahui konsep pendidikan pondok pesantren dan perannya dalam
membentuk karakter generasi muda sebagai penerus bangsa.
B. Rumusan Masalah
a. Apa pentingnya pendidikan
karakter di era globalisasi?
b.
Bagaimana
Konsep pendidikan pondok pesantren?
c. Bagaimana peran Pondok Pesantren
dalam pendidikan karakter generasi muda?
C. Tujuan Penulisan
a. Menjelaskan pentingnya pendidikan
karakter di era globalisasi.
b.
Mengetahui
konsep pendidikan Pondok Pesantren.
c. Mengidentifikasi peran Pondok
Pesantren dalam pendidikan karakter generasi muda.
D. Manfaat Penulisan
a. Manfaat Teoritis
Bagi
Santri : Meningkatkan pemahaman diri terhadap penulisan Karya Tulis dan
kesadaran akan pentingnya pendidikan sebagai sarana peningkatan mutu generasi
masa depan bangsa.
b. Manfaat Praktis
Bagi
Masyarakat luas : Mengubah paradigma masyarakat bahwa pondok pesantren juga
dapat dijadikan pilihan utama dalam
menganyam pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pendidikan Karakter di Era Globalisasi
Menurut asal katanya, kata
"globalisasi" diambil dari kata global, yang maknanya ialah
universal. Menurut Aim Abdulkarim (2007), Globalisasi merupakan proses
perkembangan pada masa kini (kontemporer) yang mempunya pengaruh dalam
mendorong munculnya berbagai kemungkinan tentang perubahan dunia yang akan
berlangsung. Pengaruh globalisasi dapat menghilangkan berbagai halangan dan
rintangan yang menjadikan dunia semakin terbuka dan saling bergantung satu sama
lainnya.
Globalisasi memengaruhi hampir
semua aspek yang ada di masyarakat, termasuk diantaranya aspek budaya.
Kebudayaan dapat diartikan sebagai nilai-nilai (values) yang dianut oleh
masyarakat ataupun persepsi yang dimiliki oleh warga masyarakat terhadap
berbagai hal lain. Baik nilai-nilai maupun persepsi berkaitan dengan
aspek-aspek kejiwaan atau psikologis, yaitu apa yang terdapat dalam alam
pikiran manusia. Aspek-aspek kejiwaan ini menjadi penting artinya apabila
disadari, bahwa tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang ada
dalam alam pikiran orang yang bersangkutan.
Tdak lain halnya dengan kejiwaan
para remaja yang pada dasarnya masih mencari jati diri dan terkadang belum bisa
menentukan dan menyaring segala informasi yang baik bagi diri mereka sendiri,
sehingga para remaja ini harus selalu diarahkan dan dibimbing supaya dapat
menjadi generasi penerus yang tidak melupakan kebudayaan yang bermoral dan
mampu bersaing dengan bangsa lain.
Pendidikan yang diterapkan di
Indonesia masih menitik beratkan kepada penguasaan kurikulum dibandingakan
dengan pembentukan karakter. Hal ini menyebabkan terbentuknya generasi bangsa
yang ahli pikir namun terbelenggu dalam kerendahan moral.
Meskipun pemerintah telah menerapkan kurikulum
pendidikan berkarakter, namun dampak yang dirasakan belum mampu membebaskan
generasi bangsa dari belenggu rendahnya moralitas.
Oleh karena itu, perlulah sebuah
pendidikan yang mampu mempertahankan dan mengembangkan karakter yang dapat
menjadi teladan bagi yang lainnya. Sebab pada dasarnya, untuk menjadi individu
yang bertanggungjawab di dalam masyarakat, setiap individu harus mengembangkan berbagaimacam
potensi yang ada dalam dirinya, terutama mengokohkan moral yang akan menjadi
panduan bagi praksis mereka dalam lembaga. Sebagaimana Megawangi (2007)
menyatakan bahwa pendidikan karakter adalah untuk mengukir akhlak melalui
proses knowing the good, loving the good, and acting the good. Yakni, suatu
proses pendidikan yang melibatkan aspek kognitif, emosi, dan fisik, sehingga
akhlak mulia bisa terukir menjadi habit of the mind, heart, and hands.
Adapun nilai yang layak diajarkan
kepada anak, di rangkung Indonesia Heritage Foundation (IHF) yang digagas oleh
Ratna Megawangi 270 menjadi sembilan pilar karakter, yaitu:
a.
Cinta
Tuhan dan segenap ciptaan-Nya (love Allah, trust, reverence, loyalty)
b.
Kemandirian
dan Tanggung Jawab (responsibility, excellence, self reliance, dicipline,
orderliness)
c.
Kejujuran,
Amanah dan Bijaksana (trustworthiness, reliability, honesty)
d.
Hormat
dan Santun ( respect, courtesy, obedience)
e.
Dermawan,
Suka menolong dan Gotong Royong (caring, empathy, genrousty, moderation,
cooperation, love, compassion)
f.
Percaya
Diri, Kreatif, dan Pekerja Keras (confidence, assertiveness, creativity,
determination, and enthusiasm)
g.
Kepemimpinan
dan Keadilan (justice, fairness, mercy, leadership)
h.
Baik
dan Rendah Hati (kindness, friendliness, humanity, modesty)
i.
Toleransi,
Kedamaiaan dan kesatuan (tolerance, flexibility, peacefullness) (Amin,2014).
Pendidikan
karakter sesungguhnya bukan sekadar berurusan dengan proses pendidikan tunas
muda yang sedang mengenyam masa pembentukan di dalam sekolah, melainkanjuga
setiap individu di dalam lembaga pendidikan.
B. Metode Pendidikan Pondok Pesantren
Pondok
pesantren sebagai suatu lembaga pendidikan yang tumbuh dan berkembang di
tengah-tengah masyarakat, sekaligus memadukan unsur-unsur pendidikan yang amat
penting. Pertama, ibadah unuk menanamkan iman dan takwa terhadap Allah SWT.
Kedua, tablig untuk menyebarkan ilmu. Ketiga, amal untuk mewujudkan
kemasyarakatan dalam kehiduan sehari-hari.
Dalam
sejarahnya, perkembangan pondok pesantren memiliki sistem pendidikan dan
pengajaran nonklasikal yang dikenal dengan nama: Bandongan, Sorogan, dan
Wetonan. Penyelenggaraan sistem ini berbeda-beda antara pondok pesantren satu
dengan pondok pesantren lainnya. Ada sebagian pondok pesantren yang
penyelenggarannya semakin lama semakin berubah, karena dipengaruhi oleh
perkembangan pendidikan di tanah air, serta tuntutan dari masyarakat di
lingkungan pondok psantren itu sendri. Dan sebagian pondok pesantren ada yang
masih mempetahankan sistem pendidikan yang semula.
Dalam
kenyataannya, dewasa ini, penyelenggaraan sistem pendidikan dan pengajaran di
pondok pesantren dapat digolongkan menjadi tiga bentuk, yaitu sebagai berikut.
Pertama,
pondok pesantren yang cara pendidikan dan pengajarannya menggunakan metode
sorogan dan bandongan, yaitu seorang kyai mengajarkan santri-santrinya
berdasarkan kitab-kitab klasik yang ditulis dalam bahasa arab dengan sistem
terjemahan. Dalam hal itu, biasanya para santri tinggal di dalam pondok, asrama
pondok, dan ada pula yang diluar pondok. Umumnya pondok pesantren semacam ini
“steril” dari ilmu pengetahuan umum, dan orang biasanya menyebut Pondok salaf
(tradisional).
Kedua,
pondok pesantren, walaupun mempertahankan pendidikan dan pengajaran, akan
tetapi lembaga pendidikan ini telah mamasukkan pendidikan umum ke pesantren,
seperti SMP SMA, STM, SMEA, atau memasukkan sistem madrasah ke pondok
pesantren.
Ketiga,
pondok pesantren di dalam sistem pendidikan dan pengajarannya mengintegrasikan
sistem madrasah kedalam pondok pesantren dengan segala jiwa, nilai, dan atribut
lainnya. Di dalam pengajarannya memakai metode dedaktik dan sistem evaluasi
pada setiap semester. Dan pengajarannya memakai sistem klasikal ditambah dengan
disiplin yang ketat dengan full asrama atau santri diwajibkan berdiam di asrama.
Para pengamat menamakannya dengan pondok modern.
Searah
perkembangan zaman, pondok pesantren selalu berusaha meningkatkan kualitasnya
dengan mendirikan madrasah-madrasah di dalam komplek pesantren masing-masing.
Dengan cara ini, pesantren tetap berfungsi sebagai pesantren dalam pengertian
aslinya, yakni tempat pendidikan dan pengajaran bagi para santri yang ingin
memperoleh ilmu pengetahuan Islam secara mendalam (Sasono, 1998).
C. Peran Pondok Pesantren dalam Pendidikan
Karakter
Pesantren
memiliki pola pendidikan yang berbeda dengan pola pendidikan pada umumnya. Di
pesantren terdapat pengawasan yang ketat menyangkut tata norma atau nilai
terutama tentang perilaku peribadatan khusus dan norma-norma mu’amalat
tertentu. Bimbingan dan norma belajar supaya cepat pintar dan cepat selesai
boleh dikatakan hampir tidak ada. Jadi, pendidikan di pesantren titik tekannya
bukan pada aspek kognitif, tetapi justru pada aspek afektif dan psikomotorik
(Mulyana, 2004).
Pesantren
sebagai salah satu sub sistem Pendidikan Nasional yang indigenous Indonesia,
mempunyai keunggulan dan karakteristik khusus dalam pengaplikasian pendidikan
karakter santri. Hal itu dikarenakan: pertama, adanya jiwa dan falsafah. Kedua,
terwujudnya integralitas dalam jiwa, nilai, sistem danstandar operasional
pelaksanaan.
6
Ketiga, terciptanya tripusat pendidikan yang
terpadu. Keempat, totalitas pendidikan.
Karakter
pesantren yang demikian itu menjadikan pesantren dapat dipandang sebagai
institusi yang efektif dalam pembangunan akhlak. Disinilah pesantren mengambil
peran untuk menanggulangi persoalan-persoalan tersebut khususnya krisis moral
yang sedang melanda, karena pendidikan pesantren merupakan pendidikann yang
terkenal dengan pendidikan agama dan seharusnya mampu untuk mencetak
generasi-generasi berkarakter yang sarat dengan nilai-nilai islam.
Dengan
demikian, pondok pesantren diharapkan mampu mencetak manusia muslim sebagai
penyuluh atau pelopor pembangunan yang takwa, cakap, berbudi luhur untuk
bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan dan keselamatan bangsa serta
mampu menempatkan dirinya dalam mata rantai keseluruhan sistem pendidikan
nasional, baik pendidikan formal maupun non formal dalam rangka membangun
manusia seutuhnya.
Dalam
konteks kekinian, pesantren masih tetap relevan dan menjanjikan untuk menjadi
garda depan dalam mengawal kelangsungan bangsa yang terancam oleh krisis moral,
krisis identitas dan krisis kepribadian (Amin, 2014).
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dihadapan
perubahan sosio-kultur yang kian deras dan globalisasi masif, pesantren tetap
tumbuh dan berkembang. Bahkan telah mendapat kepercayaan masyarakat dalam
mendidik umat. Krisis-krisis moral yang kian mendera anak-anak bangsa yang
ditunjukan oleh tawuran, kenakalan remaja, narkoba dan lain-lain memunculkan
pemahaman bahwa keberadaan pesantren menjadi alternatif pendidikan. Namun,
sejalan dengan kepercayaan masyarakat, pesantrenpun telah melakukan
perubahan-perubahan yang perlu sehingga eksistensinya benar-benar dapat
berkelanjutan.
Dengan
posisi ini, dunia pesantren tampil dengan teladan indah, dengan kontribusi
nilai-nilai keteladanan dan dalam memproduksi anak-anak bangsa yang
berkarakter. Merujuk ke ajaran islam awal, jauh sebelum kewajiban shalat,
puasa, haji, dan zakat diperintahkan oleh Allah, kesempurnaan akhlak yang
pertama diserukan. Dalam semangat ajaran dasar Islam ini maka pesantren tentu
harus menjadi agen yang pertama dalam membangun karakter bangsa dalam arti
sesungguhnya.
B. Saran
Bagi
pemerintah seharusnya lebih memperhatikan lembaga lembaga pendidikan yang
memprioritaskan pendidikan yang berbasis agama sehingga dapat menghasilkan
generasi yang ahli fikir dan dzikir.
Bagi
khalayak ramai untuk lebih sadar akan pentingnya pendidikan berbasis agama yang
mampu menjadikan generasi-generasi bangsa, sebagai bangsa yang berakhlakul
karimah dan mampu bersaing di era globalisasi yang penuh tantangan saat ini.
DAFTAR PUSTAKA
Abdulkarim,
Aim. 2007. Pendidikan Kewarganegaraan: Membangun
Warga Negara yang Demokratis. Bandung: Grafido Media Pratama
Amin,
Zamzami. 2014. Baban Kana: Pondok
Pesantren Babakan Ciwaringin dalam Kancah Sejarah untuk Melacak Perang
Kedongdong 1802-1919. Bandung: Pustaka Aura Semesta
Megawangi,
Ratna. 2007. Semua Berakar pada Karakter. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia
Mulyana,
Rahmat. 2004. Mengartikulasikan
Pendidikan Nilai. Bandung: Alfabeta
Sasono,
Adi. 1998. Solusi Islam atas Problematika
Umat: Ekonomi, Pendidikan, dan Dakwah. Jakarta: Gema Insani Press
9
Komentar
Posting Komentar